Selasa, 27 Agustus 2019

Resep - Kacang Umpet

Rasanya pengen ngemil muluuukkk. Pantesan berat badan sudah naik hampir 4 kg. Udah banyak aja yang bawel "Na, udah hamil?" dan bla bla bla.

Berawal dari waktu beberapa bulan lalu, saya mengunjungi sudara Farhan di Banten. Kami disuguhi banyak makanan, dan ada salah satu cemilan yang menarik. Rasa penasaranku muncul, dan ternyata nama makanan tersebut adalah "kacang umpet". Camilan tersebut sering menjadi oleh-oleh di beberapa kota. Mari kita bereksplorasi.

Oiya, rasanya bermacam-macam. Ada rasa gurih, manis dan manis pedas. Teragntung kalian mau rasa apalagi. Kali ini saya akan coba 3 rasa tersebut.

Berhubung saya kerja di Pasar, itu sangat memudahkan saya untuk beli bahan-bahan setiap kali mau memasak.



Bahan-Bahan :
Bahan Utama
  1. Kulit pangsit (potong empat) secukupnya
  2. Kacang tanah secukupnya
  3. Minyak secukupnya
  4. Terigu 1 sendok
  5. Air 2 Sendok
Bahan untu Rasa :
Manis pedas
  1. Bawang merah secukupnya
  2. Bawang putih secukupnya
  3. Cabe merah
  4. Cabe rawit
  5. Garam
  6. Bumbu penyedap 
  7. Gula
  8. minyak secukupnya
Manis
  1. Gula merah
  2. Gula putih
  3. garam
  4. minyak secukupnya
  5. air 
Gurih
  1. Bumbu penyedap atau bumbu bubuk rasa instan seperti balado, keju, dll
 Cara memasak :
  1. Potong kulit pangsit menjadi 4 bagian.
  2. Sangrai kacang sampe setengah matang.
  3. Aduk adonan tergit dan air, ini digunakan sebagai perkat kulit pangsit.
  4. Lalu simpan kacang yang sudah disangrai disalah satu ujung kulit pangsit dan digulungkan sampe selesai dan goreng.
  5. Setelah matang dan warna kecoklatan, tiriskan.
  6. - Untuk rasa pedas manis, ulek semua bahan dan tumis sampe matang lalu masuk. Dengan api kecil masukan kacang umpet original tadi yang sudah matang ke bumbu dan aduk perlahan. - Untuk rasa manis masak gula putih, gula merah dengan minyak. Setelah larut masukkan air hingga bumbu mengkaramel dan masukkan kacang umpet original tadi yang sudah matang ke karamel yang sudang jadi. Jangan lama-lama yaaa. - Nah, untuk rasa gurih itu hanya mencampur kacang umpet original tadi yang sudah matang dengan bumbu penyedap disuatu wadah.
  7. Setelah semua selesai, maka kacang umpet siap dicemilkan. 

Camilan ini bukan hanya orang dewasa yang suka, anak kecil pun pasti bakal suka.
Simpel kan?

Saking enaknya dan cepat habis. Saya lupa tidak foto hasilnya. Next, pas bikin lagi akan difoto yaaa.
Yuk cobain di rumah masing-masing.

Minggu, 11 Agustus 2019

Hobi Baru

Semenjak jadi istri dari Muhamad Rizki Farhan, aku punya hobi baru, yaitu memasak. Hihi.

Walau belum bisa jauh-jauh dari HP dan Umi. Haha. Sejauh ini Farhan selalu lahap dan habis makan masakan yang saya buat. Terimakasih sayang.

kami berdua mengusahakan setiap hari kerja wajib bawa bekal dari rumah. Selain sehat, yaaa pasti kalian tahulah.. irit. Maklum masih menyeimbangkan perekonoman rumah tangga. Semoga selamanya konsisten.

Next post, saya akan sharing bekal-bekal yang simpel, unik, gampang, ribet, cepat, lama dan yang pasti enaklah.

Minggu, 04 Agustus 2019

04 Agustus 2019 Alhamdulillah SAH


Alhamdulillah.

Terima kasih untuk orangtua kami, keluarga, dan teman-teman.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”

Jumat, 19 April 2019

#Khitbah - Pertemuan Dua Keluarga

Rumah kami memang dekat, namun yah memang belum pernah ada pertemuan khusus antar 2 keluarga ini. Banyak hal yang memang menurut saya belum saatnya kami semua bertemu.

Saya yang sibuk kerja kuliah dan Farhan yang juga sibuk kerja. Walau Mamah pernah beberapa kali ketemu Umi (apalagi adek cowo saya sekolah dengan Mamah wali kelasnya) dan minta Umi datang ke rumah. Cuma saya titip pesan ke Umi jangan dululah, nanti aja. Dan Umi nurut, bukan karena tidak mau silaturahmi, tapi nanti aja. :D

Tiba saatnya, kami memutuskan tanggal 19 April 2019 untuk adanya pertemuan keluarga. Hanya keluarga inti. Saya yang orangnya gak mau ribet dan mau segala sesuatu itu dibuat simpel. Acara diadakan 3 hari setelah ulang tahun saya, bukan karena di sengaja tapi ini super duper dadakan. *Jangan mikir aneh-aneh ya karena dadakan*

Saya memutuskan dekor-dekor dikitlah, biar gak garing banget. Berhubung deket kampus ada toko pernak-pernik, saya beli kertas Yasmin dan doubletip. Untuk lem tembak saya beli di Sh**pe.

Disela-sela kerja dan perkuliahan (lagi-lagi) saya buat dekor-dekor yang ala kadarnya. Yaitu bunga ditambah dedaunan dan inisial nama kami. Sungguh tangan ini sebenernya ga ada nyeni-nyeninya banget alias gak kreatif. Namun, daripada harus beli dan merogok biaya yang lumayan, lebih baik buat sendiri walau sederhana (udah kayak tempat makan Padang aja yak).

Dekorasi tersebut rencana akan di pasang di ruang tengah (yang nanti jadi tempat pertemuan antar keluarga).

Dan taraaaaaaa... inilah hasilnya. Wkwk.



**dekorasi ini sampai sekarang masih terpasang rapih loh guys, walau kadang copot**


Setelah dekorasi selesai, mari kita bahas mengenai jamuan. Masih dengan kesederhanaan. Soal masak-memasak akan diurus oleh Umi, Umi Aa dan Bi Ira (adek pertama Umi).


Yang hadir ada keluarga inti Farhan, Mang Miman, Bi Neng juga Alya.
Dan Keluarga inti Ena, Umi Aa, Bi Ira (walau sibuk di dapur), Abah, Bapak Emus dan juga Ustad Zaenal.

~ Sebelum diadakannya pertemuan ini, beberapa hari sebelumnya Umi Aa sudah konsultasi ke Pak Ustad mengenai tanggal yang kami pilih, namun karena ada perhitungan khusus, tanggal yang kami ajukan ditolak (maceum skripsi sajeu). Yang awalnya 01 September 2019 menjadi 04 Agustus 2019, Hwaaa, dimajukan.

Acara dimulai setelah Magrib, diawali dengan doa. Dilanjut penyampaian maksud dan tujuan. dan penerimaan maksud dan tujuan juga. Memantapkan tanggal. Lalu terakhir makan dan ramah tamah.


Sesimpel itu juga ya, guys. Hihi. Oiya, acara ini tidak ada tuker-tukeran cincin ya pemirsa. Kalau kalian lihat di sini kami pakai cincin, itu cincin boleh pinjam.

Sebelum pulang ada sesi dokumentasi. Kebetulan ada pewarta foto (kakak ipar Farhan), jarang-jarang kan difoto sama pewarta. Hahaha.








Saat itu kami berdua, saya dan Farhan tidak berniat menyebarluaskan foto-foto tersebut dalam jangka waktu dekat. Bukan tidak mau berbagi, tapi kami hanya manusia yang berencana. tapi Alloh yang menentukan.

Karena dalam acara inipun hanya keluarga inti saya dan Farhan saja yang tahu dan diundang. Saya pribadi hanya infokan mba Fitri (seperti kakak sendiri) saja, awalanya mba Fitri mau hadir namun saya menolak dan minta doanya saja. Selebihnya tidak ada yang saya kabari, bukan sombong tapi balik lagi saya ingin khidmat dan memang belum saatnya juga. Mungkin kalau Farhan ada beberapa teman yang Farhan infokan.

Karena sesungguhnya :

“Rahasiakanlah Pertunangan dan Umumkanlah Pernikahan”


Noted : Dipublish atau tidak, itu hak masing-masing setiap pasangan, sih. Jadi lakukanlah apa yang membuat kamu nyaman. Dan menurut saya seperti ini nyaman.


Kadang saya masih antara nyangka dan gak nyangka. Kenapa?
Karena posisi saya masih nyusun skripsi, belum lulus loh guys. Tapi insyaAlloh menikah itu ibadah dan membawa berkah, saya yakinin diri sendiri masih bisa urus segala persiapan dan perintilan soal pernikahan walau sering direcokin masalah skripsi dan kerjaan kantor.

Makanya jangan heran ya disetiap cerita ini, kalian pasti baca kata-kata "kuliah, skrispi, dan teman-temannya".

Oiya sampe lupa, sangking gak pentingnya. Makeup? Gak ada yang nanya makeup gituuuu. Haha.
Dandan sendiri ala minimalis (pucet) karena ga punya alat tempur... :D


***------***
Rasa senang dan syukur pasti muncul setelah melewati proses ini, namun ada sedikit kegalauan saya yang saya rasain. Dipostingan selanjutnya, akan saya ceritakan. :)


Persiapan dimulai......

Senin, 01 Oktober 2018

Welcome Semester 7 - Seminar Proposal Skripsi

Selamat datang Semester 7. UAS semester 6 baru usai.

Cerita dimulai...

Diawal semester ini saya mendapatkan kabar dari kampus, bahwa untuk pengurusan Proposal Skripsi diajukan di semester ini. Karena biasanya diadakan di semester 8.

Saat itu seluruh anak semester 7, diberi waktu + 1 bulan untuk mengajukan judul. Jujur saya mengalami yang namanya "Putus Asa". Tiap hari berasa minum obat yang paiiiitttt. Jurusan ini tidak 100% saya suka. Hm, apa daya. Yang sejak masih sekolah sering saya mendengar kata "kuliah salah jurusan" ternyata kini saya alami. Mari kita nikmatin.

Mungkin lebih 10 kali judul yang saya buat dan ajukan ditolak. Hampir setiap hari, saya dan beberapa teman rajin datang ke kampus, ke perpus,  ke kantin juga, ketemu dosen, nanya ini itu, curhat ini itu, nanya ke staf perpus, nanya ke staf BAAK, nanya ke anak senior. Bosen kali yak itu semua orang ditanya kita mulu.

Masa-masa ini saya banyak sharing sama Teh Dewi (beliau Ibu dari 2 anak, yang bekerja pula). Setiap hari kami mendapatakan hal seperti ini.
(D= Dosen, K= Kami).

D : "Ini salah..."
D : "Ini gak cocok..."
D : "Ini kurang!"
D : "Harusnya ini."
D : "Harusnya itu."
D : "Baca jurnal."
D : "Apa yang mau kamu bahas?"
D : "Y nya mana?"
D : "X nya kok satu?"
D : "X sama Y harus nyambung."
K : "Apa itu X, Y itu apa? Cuti aja kali yak kita? Ikut pengurusan proskip tahun depan? Hwa galau."

Namun banyaknya dukungan orangtua, keluarga, pacar (hehe), suami (itu Teh Dewi yaa), Mba Fitri juga, para dosen, dan banyak lain termasuk Mamah Farhan yang bahkan berbagi do'a yang sering beliau do'akan untuk anak-anaknya. Kami putusin lanjut pengurusan proskip tahun ini. Doakan yaaa.
Dari kebanyak-nanyaannya kami, sehingga sedikit demi sedikit kami paham.

Setelah lelah ini itu, akhirnya kami mengajukan 2 judul yang beberapa dosen anggap itu oke. Majulah kami pengajuan judul sampai ijin pulang cepat dari kantor (efek jadwal dosen yang gak pernah cocok sama kami yang anak karyawan). Dan kami orang pertama di kelas yang judulnya di ACC, saat itu yang tanda tangan judul kami adalah Bapak H. M Arifin, Drs. MM. Fix, maapkeun ini bukannya sombong, tapi nanti kalian baca deh blog ini sampai akhir. Akan ada cerita perjuangan dibalik ini semua.

2 minggu kami menunggu pengumuman judul mana yang para dosen pilih. Adanya rapat besar antar dosen untuk menentukan judul kami.

Pengumuman tiba....
Lihat mading, dan ternyata saya dan Teh Dewi dapat dosen pembimbing yang sama yakni Bapak Drs. Aang Munawar, MM. Kok bisa yaa kita sama, Teh. Hehe. Enak sih, kita bisa ngeluh bareng.

Beliau merupakan dosen Manajemen Keuangan saat semester pertama dan beliau merupakan dosen pertama yang mengajar saat pertama kali saya masuk kelas, dosen yang setiap beliau mengajar selalu ada canda tawa deh. Tapi hmm, saat dia menjelaskan materi, beliau menunjukkan Power Point dengan tampilan semuanya bahasa Inggris. Semoga Bapak saat bimbingan dengan kami tidak dengan menggunakan bahasa inggris yaa. Hehe.

Dengan gerak cepat, kami langsung mencari kontak Pak Aang. Buat janji dan ketemuan eh bimbingan deng.

*
Efek saya karyawan dengan jam normal, saya tergesah-gesah datang ke kampus. Di situ sudah ada teh Dewi dan beberapa teman yang dibimbing Pak Aang. Muka mereka kok lesuh saat Pak Aang menjelaskan.

Ternyata kami diwajibkan membawa minimal 10 jurnal. Serius? Giliran saya ditanya.
"Kamu judulnya apa?" tanya Pak Aang
"..........................................." jawab saya walau belum sampai selesai menyebutkannya.
"Hwaaaaa... ganti judul. Kalian itu kalau bikin judul harus pakai logika."
Kami semua merenung dan serius mendengarkan penjelasan beliau, walau selalu diselipkan guyonan beliau.

Bimbingan pertama selesai *******

Lesuh. Ini yang saya bilang di atas, saya gak mau sombong. Karena pasti akan ada rintangan lagi di depan. Namun, saya yakin Pak Aang seperti itu pasti mempunyai tujuan yang baik untuk kami. Yups, agar kami tidak kehabisan materi, dan banyak hal baik lainnya. Saya bilang ke Teh Dewi "Kita yang pertama judulnya di ACC dan yang pertama juga disuruh ganti judul, hmmm sedih Teh."

Saya baca-baca jurnal, skrispi, balik lagi ke kampus, ke perpus, ketemu dosen, dll. Ini seperti flashback.

Saya beranikan diri untuk chat Bapak Pembimbing, satu judul, dua judul, tiga judul. Chat pagi hari, dibalas sore hari. Beliau balas "OK, judul kedua, pada Bank Pemerintah atau Swasta tapi semua.". Saya jawab "Bank Pemerintah yah Pak?". Beliau balas lagi "Minimal 10 tahun". Hwaaaaaa. Oke mari kita jalani lagi.

Bimbingan kedua sampai keempat (karena maksimal peretemuan adalah 4 kali) sudah selesai, dari chat, janjian di kampus, hampir datang ke kantor beliau, dan akhirnya datang ke rumah beliau beberapa kali malam-malam, bukannya gak sopan tapi karena jadwal ngantor kami dan ngajar beliau yang selalu bentrok dan beliau juga yang mengusulkan datang ke rumah. Saat bimbingan adanya negosiasi, dapatlah 5 tahun dengan 30 bank swasta. Fix, ini gak bisa ditawar lagi. Hupt. Tanda tangan Dosen Pembimbing untuk lanjut untuk Seminar Proskip sudah ditangan. Lagi, mari kita nikmati.

Setiap orang tanya, judulnya apa, berapa tahun, dan bank apa. Mereka cengo setelah tau saya dengan 30 bank. Bapak Pembimbing selalu bilang "Jangan banyak ngeluh, gampang itu mah, jalani aja, hwaaaaa" dengan gayanya beliau.

H : "Pak pusing...."
D : "Kamu pusing?"
H : "Iya Pak"
D : "Hmm, kamu ini, minum obat, minum bodrek yaa"
H : "Zzzzzzzzzz, baik Pak hehehe"
D : *kasih jempol*

Mulailah saya proses pembuatan Bab I, Bab II, dan Bab III. Pengajuan dan tunggu jadwal.

Jadwal keluar, hwaaaa dapat kloter pertama. Siapa yaa Dosen Pengujinya? Berhubung yang bertahan ikut seminar semester 7 ini hanya 10 orang dari 30 lebih mahasiswa di kelas, jadi yaaa hanya ada 4 kali pertemuan seminar. H-8 setelah ada penyuluhan, Senin harus sudah mengumpulkan hardcover-nya.


Behind the scenes....
Hati deg-deg an sambil kerja yang terus lanjut, sebenernya badan yang tiga mingguan terakhir drop, batuk-batuk, flu parah, akhirnya saya sempetin waktu untuk cek ke puskesmas, Dokter instruksi aku ke lab untuk dicek, dan hasilnya saya yang didiagnosa gejala TBC. Hwaaa kok bisa sih? Sejauh ini batuk memang menggangu saya. Ini menular dan saya harus jaga jarak dari orang-orang.

Saya yang paling anti rumah sakit, obat-obatan dan segala multivitamin. Setelah dapat hasil lab, yang seharusnya saya wajib balik lagi ke Dokter, saya pilih beli jeruk peras dan kecap. 3 hari saya minum itu dan alhamdulillah batuk mereda. Siaplah yaah untuk memulai seminar proskip.

Hari H, Senin 01 Oktober 2018 saya putusin ambil cuti kerja untuk nenangin diri aja. Semua disiapkan 9 rangkap fotokopi hangout, saya pakai rok moka kotak-kotak warisan dari Umi zaman baheula, kerudung moka dan kemeja putih. Siaplah yah.

Jujur aku tiap solat  selau baca do'a Nabi Musa ini dan alhmadulillah tidak pernah terlewat, bahkan sebelum memulai hari saya baca juga.


     



Setelah solat Ashar, saya OTW kampus. Mencoba biasa aja, ini presentasi biasa aja.

Seminar dilaksanakan setelah solat Maghrib di Gedung baru ruang 512. Masuk kelas dan semua peserta mukanya tegang dan deg-degan. Moderator masuk daaaan Pak H. Weman Suardy, DRs., MM masuk kelas. Semua mukanya bahagia walau tetap tegang.

Seminar mulai **********

Giliran saya selesai, tanya jawab antara peserta dan dosen. diakhir evaluasi. Saya? Bengong. Pak saya revisinya apa? "Tidak ada" beliau jawab. Dilembar hanya ada tulisan apa yang dimaksud GM. Hehehe ternyata itu adalah typo, maksudnya GWM Pak. Mohon maaf. Berarti saya aman Pak? Iya lanjut saja.

The power of do'a. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Tinggal rapihin yang typo-typo dan lanjut cetak ulang dan buat CD (yang dibantu Farhan), lalu kumpulkan ke sekjur.

Bab IV dan Bab V, menanti.

Bissmillah.



Sabtu, 01 September 2018

Pemandian Air Panas Tirta Sanita




Berendam air hangat (air panas) enak kayanya.  Saya dan Farhan memilih Pemandian Air Panas Tirta Sanita, yaitu daerah Parung. Lokasinya bersebrangan dengan wisata Tirta Sanita yang waktu masa SMK saya, Farhan dan wara-wiri datangi.
Tiket masuk Rp. 10.000,-, trek menuju lokasi dari parkiran tidak terlalu jauh. kita hanya seperti naik bukit dan taraaaakolam buatan yang berisi sumber mata air panas yang mengandung belerang  sudah terlihat. Nah ternyata sebelum kita nyebur, kita diminta tiket yang tadi bayar di bawah dan kita harus bayar lagi dengan nominal yang sama yaitu Rp. 10.000,-.
Seharusnya dengan biaya sebesar itu bisa membuat lokasi pemandian air panas ini terawat. Namun, sayang sekali jalan setapak menuju kolam dan bahkan di samping kolam masih banyak sampah yang berserakan. Dan satu lagi tidak adanya tempat bilas, jadi kalau kita sudah berendam, untuk ngebilasnya nanti saja di rumah. Hikss. Mudah-mudahan adanya kesadaran yaa untuk para pengelolanya dan juga para pengunjung untuk tidak buang sampah sembarang. Aamiin. Karena kalau memang pengelola tidak menyediakan banyak tempat sampah, alangkah baiknya sampah yang kita punya masukkan ke plastik dan nanti kita buang pada tempatnya.
Baiklah, saatnya kita nyebur, eh berendam. Cuaca yang cukup panas tidak membuat saya menciut karena takut kulit menggelap. Saya dan Farhan malah menikmati air belerang tersebut. Saat itu memang cukup banyak pengunjung yang datang, sehingga cukup ramai.



Minara 3 Tahun

Jauh-jauh hari Ibu berencana membuat kue sehat ala Ibu, hanya butuh 2 bahan. Ubi dna Cokelat. Selain membuat kue ulang tahun, kami belanja o...