Sabtu, 01 September 2018

Pemandian Air Panas Tirta Sanita




Berendam air hangat (air panas) enak kayanya.  Saya dan Farhan memilih Pemandian Air Panas Tirta Sanita, yaitu daerah Parung. Lokasinya bersebrangan dengan wisata Tirta Sanita yang waktu masa SMK saya, Farhan dan wara-wiri datangi.
Tiket masuk Rp. 10.000,-, trek menuju lokasi dari parkiran tidak terlalu jauh. kita hanya seperti naik bukit dan taraaaakolam buatan yang berisi sumber mata air panas yang mengandung belerang  sudah terlihat. Nah ternyata sebelum kita nyebur, kita diminta tiket yang tadi bayar di bawah dan kita harus bayar lagi dengan nominal yang sama yaitu Rp. 10.000,-.
Seharusnya dengan biaya sebesar itu bisa membuat lokasi pemandian air panas ini terawat. Namun, sayang sekali jalan setapak menuju kolam dan bahkan di samping kolam masih banyak sampah yang berserakan. Dan satu lagi tidak adanya tempat bilas, jadi kalau kita sudah berendam, untuk ngebilasnya nanti saja di rumah. Hikss. Mudah-mudahan adanya kesadaran yaa untuk para pengelolanya dan juga para pengunjung untuk tidak buang sampah sembarang. Aamiin. Karena kalau memang pengelola tidak menyediakan banyak tempat sampah, alangkah baiknya sampah yang kita punya masukkan ke plastik dan nanti kita buang pada tempatnya.
Baiklah, saatnya kita nyebur, eh berendam. Cuaca yang cukup panas tidak membuat saya menciut karena takut kulit menggelap. Saya dan Farhan malah menikmati air belerang tersebut. Saat itu memang cukup banyak pengunjung yang datang, sehingga cukup ramai.



Minggu, 17 Juni 2018

Umi Aa


Umi Aa, itu panggilan saya terhadap beliau. Entah dari mana awalnya saya bisa memanggil beliau dengan sebutan seperti itu. Beliau merupakan Umi dari Umi saya. Hm, Umi mempunyai adek laki-laki satu-satunya yang masih ada (karena harusnya Umi punya 3 adek laki-laki, namun Alloh lebih sayang mereka sehingga cepat dipanggil). Nah, adek laki-laki Umi itu (Om) saya panggil Aa, seharusnya sih saya panggil Mamang. Mungkin saya dulu salah bergaul, jadi salah panggilan. Karena Umi Aa sekarang hanya mempunyai anak laki-laki satu-satunya, maka tercetuslah nenek saya itu saya panggil Umi Aa (kalo adeknya Umi saya panggilnya dengan panggilan Mamang, mungkin jadinya Umi Mamang, haahha aneh yah). Jadi itu sejarah mengada-ada saya, kenapa manggil nenek menjadi "Umi Aa". Hmmm, netijen paham gak sama cerita saya di atas? Nggak yaa? Oke, abaikan. Kembali ke topik awal tentang Umi Aa,

Umi Aa ini hobinya menghadiri pengajian dan bahkan beliau didaulat oleh Ustad dan ustadzahnya sebagai bendahara, jadi setiap ada acara ziarah, beliau menjadi bendahara tetapnya. Hm, I am proud of you.

Umi Aa emang hobinya pergi sana sini, kayanya kalo diem di rumah aja bukan Umi Aa, kecuali beliau sakit dan terpaksa hanya tiduran di kamar. Selain sering ikut pengajian dan ikut ziarah sana sini, beliau juga terkenal sekampung Rancamaya dan sekitarnya sebagai chef (kepala masak) dalam setiap acara yang diadakan warga. Nggak semua tawaran si Umi terima, bukan karena bayaran atau apapun, namun untuk sekarang karena umur dan kondisi tubuh yang kurang memungkinkan. Karena Umi emang hobinya masak, jadi melakukan hal itu dengan senang hati dan juga saling membantu sesama tetangga, jadi soal bayaran pasti nomor sekian karena beberapa kali juga Umi Aa sempet menolak. Jadi Umi Aa beda dari orang yang lain saat "bantu-bantu" yaa. Hmm kesel.

Oiya, sempet punya keinginan nanti kalau saya nikah, Umi Aa jadi kepala kokinya, namun kasian juga yaah, jadi pengennya Umi Aa duduk manis aja. Hm tapi nanti terserah Umi Aa aja deh. Mandorin aja juga boleh. Hehe. 

Umi Aa juga tau makanan kesukaan saya yaitu nasi hangat, ikan japuh (panggang, goreng ataupun pepes), sayur asem dan sambal, itu adalah kenikmatan yang HQQ yang cucunya kalau makan itu bisa nambah beberapa kali. Haha. Hm, Semarang beliau agak kaget, karena setelah sekian lama, saya makan jengkol lagi a.k.a doyan. Ups. 

Saya sebagai cucu pertamanya, saya memang merasa belum banyak yang bisa saya kasih, saya yang bekerja sambil kuliah masih banyak menyita waktu dan materi untuk hal itu. Saya selalu berdoa untuk Umi Aa selalu sehat, diberikan rezeki yang berkah, awet muda dan selalu dalam lindungan Alloh SWT. Aamiin.

Doain juga untuk cucumu saat ini yang sedang berjuang menempuh semester akhir yaa, doain 2019 cucumu wisuda.


Tertanda cucumu Herliana Yuningsih
Love.

Sabtu, 28 April 2018

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk - Hutan Mangrove, Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara

Rencana untuk berlibur ke tempat wisata ini sudah direncanakan jauh-jauh hari namun ternyata banyak kesibukan lain yang menggagalkan untuk dateng ke sini *eeaaaa, dan tiba-tiba kami (kami = saya dan Mbak Fitri) putuskan hari ini berangkat nekat kesana. Kenapa nekat? Karena kami tidak tahu persis lokasinya dimana, dan transportasi apa yang harus kami tempuh. Bermodalkan mbah Google, kami memutuskan dari Bogor kota naik kereta di Stasiun Bogor dan berhenti di stasiun tujuan akhir Stasiun Kota
 
Dari Stasiun Kota kami tanya ke Satpam (pepatah bilang “malu bertanya, sesat di jalan”) arah halte bus TransJakarta. Bapak Satpam menunjuk pintu keluar arah kiri. Lalu kami melewati underpass, yang disetiap sisinya banyak kios-kios yang menjajakan makanan, minuman, dan pernak pernik lain. Lalu kami mengikuti tanda panah menuju Halte Transjakarta. Setelah sampai, kami tak lupa membayar dengan menggunakan T-Cash. Halte Bus TransJakarta ini persis depan Museum Mandiri. 

Meseum Mandiri
Dengan kebingungan karena gak lucu kalau harus nyasar di Jakarta dengan cuaca saat itu cerah alias panaaasss, kami tanya salah satu mbak-mbak berkerudung dan ternyata mbak itu pun arah ke Pantai Indah Kapuk juga, karena dia bekerja di sana. Mbak itu instruksikan kami untuk menunggu bus TransJakarta dengan Tulisan Pantai Indah Kapuk – Balai Kota. 1 menit, 10 menit bahkan 1 jam hingga si Mbak naik g*jek karena kesiangan kerja, namun kami tetap menunggu bus tersebut dengan gelisah hampir pasrah, entah kenapa bus yang sering terlihat hanya  bus yang bertuliskan ”Tidak Melayani Penumpang”, “Penjaringan”, “Blok M”. Setelah lelah menunggu dan banyak pula calon penumpang yang mundur yang akan menuju Pantai Indah Kapuk tersebut. Kami dengan sabar, lalu siap-siap setelah melihat bus tersebut tiba. Akhirnya...


Yayasab Budha Tcu Chi
Jadi setelah naik kereta dengan tujuan Stasiun Kota, lalu menaiki Bus TransJakarta tujuan Pantai Indah Kapuk. Waktu yang ditempuh dengan bus kurang lebih 1 jam. Sebelum turun alhamdulillah, kami bertemu kembali dengan Bapak-Bapak yang baik (Dibalik kerasnya Ibukota Jakarta, ternyata masih ada segelintir orang yang baik hati), yang mengajak ngobrol dan menanyakan tempat yang akan kami tuju. Setelah kami sebut Hutan Mangrove, Bapak itu menyuruh turun bareng di depan Gedung Budha Tzu Chi persis sebrang PIK Avenue, lalu mengarahkan kami jalan kaki dengan arah sebelumnya dengan mengikuti jalan setapak (seperti mengelilingi Gedung Budha Tzu Chi) karena Gerbang TWA Pantai Indah Kapuk ternyata ada dibelakang persis gedung tersebut.


Ternyata menuju TWA Pantai Indah Kapuk, Hutan Mangrove ini sebenarnya sangat mudah, walaupun jaraknya cukup jauh.

Harga tiket masuk untuk dewasa saat hari libur adalah Rp. 30.000,- (dengan rincian Rp. 7.500,- untuk karcis masuk hari libur dan Rp. 22.500,- untuk paket rekreasi) dan hari biasa Rp. 25.000,-.

Karcis Masuk

Setelah masuk, persis sebelah kiri setelah loket, sudah disedikan masjid yang sangat nyaman dan bersih. Mesjid ini langsung dikelilingi lautan hutan mangrove. Indah. Di dalampun ada tempat makan dan kantin dengan ruang duduk yang serba kayu, nyaman. Oiya, TWA ini tutup pukul 17.30 WIB yaa guys.

Mesjid Al-Hikmah
Untuk yang bawa kendaraan sudah disediakan tempat parkir yang cukup luas dan ada biaya parkir tersendiri. Setelah membeli tiket, ada pos pengecekan tiket, di sini kami ditanya apakah membawa kamera selain kamera HP, sepertinya kalau kita membawa kamera akan dikenakan biaya tambahan. Alhamdulillah, kamera HP yang kami bawa sudah cukup tinggi resolusinya jadi gak perlu repot-repot dan bayar mahal karena bawa kamera. Hehe.

TWA Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk ini selain untuk menghalangi pengikisan akibat air laut, menahan ombak yang tinggi dan mengahalangi angin yang kencang, tempat ini memang cocok banget untuk foto-foto, dan disinipun kalian bisa wisata air menaiki perahu-perhau kecil yang telah disediakan (dengan tiket yang terpisah) dan juga bisa berkemah dengan disediakan penginapan seperti rumah-rumah kayu yang berbentuk segitiga yang cocok untuk acara gathering kantor, acara sekolah ataupun dengan keluarga.

Depan Kantin

Belakang adalah Wisata Air

Hutan Mangrove


Hutan Mangrove dan Rawa

Jembatan

Bibit Pohon Bakau

Ayunan Jaring

Jembatan

Hutan Magrove

Penginapan Rumah Kayu

Oiya, kaki kalian akan diuji disini, karena luas di TWA ini sekitar 99.82 HA. Wow.

Sejauh mata memandang banyak pohon bakau, air rawa yang hijau, rumah kayu dan jembatan-jembatan yang terbuat dari bambu. Jalan-jalan di atas jembatan ini kalian harus hati-hati karena ada beberapa lubang kecil dan bambu yang agak sedikit rapuh.

Saya rekomendasikan TWA Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk ini menjadi alternatif liburan murah Anda dengan keluarga, teman dan pasangan. Tempat ini seperti angin segar ditengah hiruk pikuk Ibukota Jakarta dengan gedung-gedung tingginya.

Dan untuk arah pulang, kalian bisa kembali mengikuti jalan setapak sebelumnya lalu menyebrang jalan (yang ditengahnya terdapat sungai) menuju halte depan PIK Avenue untuk menunggu Bus TransJakarta PIK-Kota dengan hanya membayar Rp. 3.500/orang lalu akan mengantarkan kalian menuju Stasiun Kota kembali.

Tiket TransJakarta

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba yaaa guys.


Sabtu, 03 Februari 2018

Liburan Sehari ke Bandung - Rancabali, Bandung


Selamat pagi Bandung Selatan...

Perjalanan yang sangat amat singkat ini akan segera dimulai.

Disambut dengan cuaca yang sendu karena turunnya hujan, tidak menyurutkan saya untuk mengeksplore beberapa tempat wisata di daerah Bandung Selatan ini, tepatnya di Ciwidey.

Beberapa potong kue balok dan secangkir teh hangat
Sebelumnya saat pagi buta, setelah solat subuh saya mencoba sebuah jajanan yang sedang ramai dikelilingi beberapa Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Kue balok hangat dan teh hangat yang membuat saya siap memulai hari. Kali-kali nyoba kue balo di Bandung, karena di Bogor pun banyak yang menjajakan camilan ini.




Setelah kenyang dan matahari malu-malu menampakkan diri, kali ini lokasi pertama yang saya pilih adalah Glamping Lakeside Rancabali. Tiket masuk ke kawasan Glamping Lakeside Rancabali adalah 20.000/ orang dan untuk masuk ke pinisinya adalah 10.000/ orang. Hm, jujur sebenernya saya kurang tertarik dengan lokasi wisata yang ada resto-resto bagus seperti ini, selain karena kurang natural juga pasti harga makanan dan minuman di sini pasti cukup mahal. Karena perut belum terlalu lapar, jadi mari kita nikmati view-nya saja.




Glamping Lakeside Rancabali ini adalah sebuah resto yang berbentuk sebuah pinisi yang cukup besar di tengah-tengah kebun teh dan di pinggir Situ Patenggang. Selain itu disekeliling ada beberapa resort yang bisa disewakan dengan aksen atapnya warna putih yang trlihat cukup mewah. Maka dari itu disebut glamping, karena itu merupakan sebuah singkatan dari glamour camping. Setelah puas menikmati pemandangan kebun teh dan situ yang sangat luas, saya lanjut perjalanan.



Di tengah perjalanan saya melipir dulu ke sebuah perkebunan teh yang sangat luas, masih di daerah Rancabali. Lagi-lagi view seperti ini pun sebenarnya sudah tersedia di daerah Puncak.

Cuaca masih kurang bersahabat, maka dari itu saya mencoba memilih untuk berendam air panas (di sini saya tidak ambil foto yah, karena terlalu menikmati berendam). Ini cukup membuat badan hangat dan siap untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor. Tak lupa sebelum pulang ke Bogor untuk isi perut dahulu agar bisa tertidur di mobil.

Minggu, 07 Januari 2018

Resep Es Mambo Nangka



Karena pengen yang seger-seger dan di rumah ada nangka, saya inisiatif bikin es mambo nangka. Bahannya ngga ribet-ribet. Apa yang ada di dapur itu yang dipake.

Bahan-bahannya :
-           Buah nangka
-          SKM
-          Tepung tapioka
-          Gula
-           Garam
-           Air
Bahan-bahan di atas bisa sesuai selera kalian untuk takarannya.



Cara membuat :
1.       Potong-potong dadu nangka yang ada
2.       Masukkan semua bahan di atas tadi lalu masak hingga mendidih dan terasa. Stelah dirasa cukup, sisihkan dan dinginkkan sampai uap panasnya menghilang.
3.       Siapkan plastik kecil untuk es mambo, sendok, dan corong.
4.       Bungkus semua adonan lalu masukan ke freezer, tunggu hingga beku.
Bagaimana? Simple bangetkan. Resep ini bisa kalian praktekkan di rumah dan cocok untuk penghilang dahaga dan pastinya enak seperti rasa es teler.
Yummmyyyy...


Minara 3 Tahun

Jauh-jauh hari Ibu berencana membuat kue sehat ala Ibu, hanya butuh 2 bahan. Ubi dna Cokelat. Selain membuat kue ulang tahun, kami belanja o...