Senin, 06 Maret 2017
Rabu, 01 Maret 2017
Mau Hitz Tapi Repot
Sebelum aku nulis blog ini, mungkin aku juga termasuk kedalam yang maksud aku tulis sekarang. Jadi tulisan ini pun sebagai pengingat diri aku sendiri kok. Jadi kalau ada yang baca dan ga akan ada yang bilang “elu kayak yang nggak aja, Her!”.
Jadi begini, akhir-akhir ini banyak anak muda (aku termasuk mungkin sedikit haha) yang tergila-gila hunting tempat baru yang hitzzz, yang foto-able, yang instagram-able banget. Istilahnya (kasarnya) datang ke suatu tempat hanya membeli secangkir teh dan mengambil sejuta foto. Mungkin juga mereka tidak berniat untuk sombong kok, tapi mungkin yaaa, hm mungkin juga mereka hanya untuk menyimpan cadangan ganti dp BBM, WhatsApp, Line, dan untuk di upload ke path, instagram, facebook, twitter, tumblr, friendster (bagi yang masih aktif), bahkan blog (bagi mereka yang punya), intinya semua media sosial dia bagi rata, biar semua orang di dunia tau, dia pergi ke satu tempat, yaps hanya satu tempat. Jadi niat untuk pergi ke satu tempat untuk berlibur dan refreshing malah jadi paciweuh sama yang namanya foto, bawa HP dengan kamera canggih, kamera DSLR bahkan mungkin dengan 3 lensa lebih lengkap dengan tripodnya, bahkan action camera-pun dia bawa. Ya Tuhan... Mungkin itu semua menjadi hiburan tersendiri bagi mereka yang melakoni itu.
Fungsi dari media sosial mungkin juga termasuk itu, untuk mengumbar-umbar, yah selain sebagai alat komunikasi itu sendiri. Dan yang lebih anehnya mereka (sekali lagi ini hanya oknum) yang rela mem-broadcast dan sounding temen-temennya biar pada like/ love foto yang mereka upload, setelah foto mereka di-like mereka me-like ulang orang tersebut. Mungkin (lagi) juga biar mereka terlihat eksis, namun dengan membuat dia malu terlebih dahulu dengan melakukan hal yang tadi. Halaaaahhh ribet banget anak gaul zaman sekarang. Jadi niat pergi ke satu tempat malah terbebani oleh itu semua. Balik lagi, itu mungkin juga termasuk hiburan untuk mereka.
Risih. Maksudnya aku risih kalau sampe harus kayak gitu. Maka dari itu sekarang aku mulai melakukan pe-non-aktip-an beberapa media sosial yang aku punya seperti twitter, path, line mugkin selanjutnya instagram. Mungkin yaaa haha. Bukan karena tidak mengikuti zaman, tapi aku tidak mau hidup aku jadi tergantung pada media sosial itu sendiri dan membuat semua orang tahu aku lagi ada dimana dengan melakukan hal apapun. Karena selain ada sisi positif pasti ada sisi negatifnya. Tapi untuk blog aku bakal jalan terus karena kalau aku lagi seneng, sedih, bete, kesel bahkan kalau lagi benci seseorang bisa aku tuangkan semuanya lewat tulisan di blog ini.
Sebenarnya sah-sah saja menggunakan media sosial, tapi gunakanlah sebijaksana mungkin, maksudnya jangan berlebihan. Karena penilaian orang beda. Apalagi jangan pernah (sering) ulpoad foto selfie dengan caption kata-kata bijak. Ingat kalian bukan Mario Teguh. Aku yakin tulisan blog aku kali ini, bener-bener nyinyir. Tapi apa daya hati dan mulut todak bisa berbohong. Hahaha.
Sekali lagi kalau ada yang merasa kesinggung i am so sorry. Haha, tks.
Senin, 13 Februari 2017
Kelak, Untuk Dikenang
Nak, ini kami waktu masih muda.
Setiap pergi kemanapun dan melakukan hal apapun, aku selalu ingin foto disetiap moment hal apapun bukan karena kenarsisanku, tapi semata-mata aku ingin tunjukan kepadamu, Nak sebagian cerita.
Dan ini sebagian cerita untuk kamu ketahui, bangun pagi, sepedahan, ngobrol ngaler-ngidul, sarapan bubur. Dan kamipun mempunyai 2 tempat yang nyaman untuk melunturkan rasa lelah setelah bersepeda, dengan view Gunung Salak. Akan menjadi rutinitas saat kami libur kerja dan itupun kalau tidak turun hujan.
Ini semua untuk dikenang.
Lupa Hidup Sendiri
Mungkin saya akan (pura-pura) sibuk dengan membaca novel-novel yang sebenarnya malah membuat saya jatuh terlalu dalam dengan cerita yang sangat teratur dan jelas ending-nya, yang membuat saya lupa sesaat terhadap hidup saya yang penuh keegoisan ini.
Keegoisan aku atau kamu?
Waktu akan terus berputar. Senang, sedih, bahagia, ribut, ketawa, nangis, rindu. Ah, semuanya telah terlewati. Dari zaman masih sama-sama sekolah, beda kelas, sekelas, kuliah, kerja, kuliah. Saat kita mau jalan-jalan kemanapun, masih minta uang jajan dari orang tua. Maklum masih belum berpenghasilan, mungkin kita terlalu menikmati rasa jatuh cinta.
Saat masih sekolah, dia sering ajak aku makan dipinggir jalan tol Ciawi untuk makan siomay. Saat itu satu itu, satu porsi harganya Rp. 5.000. Hampir tiap minggu, sepulang sekolah kita makan di situ. Aku gak malu diajak makan kayak gitu. Aseli, it’s memorable banget.
Selain itu, dia juga sering ajak main ke Kebun Raya, Puncak, Ciseeng, Air Mancur, Sempur, kemanapun aku ikut. Aku mau. Aku anggap sering, karena saat itu kita belum berpenghasilan. Sekarang aku rindu. Walau kita sekarangpun suka jalan-jalan, kemping, piknik, tapi agak susah, tiap aku mau ke suatu tempat dia susah aku ajak, gak tau kenapa. Kadang iri sama temen-temennya. Kemanapun pasti dia, mau. Aku memang masih harus bersyukur, karena dia memang jauh dari kata merokok walau dia pernah cerita zaman SMP pernah nyoba sekali, tawuran, bolos sekolah, dan deket sama cewe (gak tau deh kalo masih suka deket sama cewe laen apa ngga, karena beberapa kali pernah kepergok dan walau hanya chat dan save kontaknya doang). Mungkin itu semua aku tidak usah khawatir, aku percaya, tapi untuk soal cewe laen aku sangat muak dan mungkin diapun sama akan muak kalau aku dekat dengan cowo lain. Dan ini memang agak aneh sih, aku juga cemburu sama temen-temen cowo dia. Bukan aku melarang dia main sama temen-temennya itu. Tapi, aku berharap dia bisa berlaku adil tanpa menyinggung perasaan aku ini. Semandiri apapun aku, aku juga "wanita".
Mungkin ini berlebihan, hmm.. sangat berlebihan. Tapi, ini memang apa yang aku rasain.
Aku akui, sekarang aku egois.
Maaf karena aku sudah jatuh cinta kepadamu yang membuat aku lelah untuk mencari dan maaf untuk keegoisanku yang tak pernah tahu batas sabar.
Maaf karena aku sudah jatuh cinta kepadamu yang membuat aku lelah untuk mencari dan maaf untuk keegoisanku yang tak pernah tahu batas sabar.
Terimakasih.
Minggu, 05 Februari 2017
Camping Reuni di Camping Ground Cipeteuy
Pengen kemping titik. Sampe-sampe
bela-belain pulang kuliah malam, turun hujan, Farhan dan temannya yang sudah
berangkat duluan untuk turun lagi ke daerah Bogor kota untuk jemput saya dan
satu teman perempuan saya. Hujan yang lama reda, menjadikan Farhan, dkk jemput
kami jam setengah 12, ini malem loh yaaa.
Hm, ini sih bukan kemping yang
nginep-nginep gitu. Haha. Perjalanan yang cukup panjang membuat kita sampai jam
setengah satu lewat di perkemahan, tempat dimana 2 tenda sudah berdiri tegak.
Ihwww. Luar biasa sih ini. Entah malam itu saya melewati apa, karena memang
gelap, hanya mendengar suara air dan jangkrik-jangkrik yang saling bersautan.
Di tenda sudah ada para lelaki yaitu teman-teman saya dan Farhan juga semasa
SMK. Mungkin ini yang dinamakan reuni anti mainstream,
jauh dari kata hingar bingar. Wkwkw.
Karena lelahnya akibat tadi
kuliah sore sampai malam, membuat saya terlelap dalam tidur. Subuh tiba, kami
bersiap-siap solat dan mencari sumber air. Hehe. Lokasi dari tenda menuju air
terjun tidak terlalu jauh pemirsah. Jadi gak ada yang namanya kelelahan karena
tracking. Memang agak kurang greget sih kalau begitu (hehe gaya-gayaan lu,
Her). Airnya seperti biasa, sangat jernih dan menggoda saya untuk nyebur.
Badan sudah basah, ganti baju dan
seperti biasa para laki-laki menyerahkan urusan perut pada perempuan (walau
sekarang zamannya emansipasi). So it’s
time to cookiiing. Beras, mi, ikan teri, sambal dan lalap disulap etss
dimasak deng dan siap untuk disantap.
Setelah puas bercengkrama dan tak
lupa foto-foto, kita semua siap-siap untuk pulang. Kali ini saya akan melihat
jalur yang semalam yang saya lewati.
Jadi kita ini kemping di daerah
Camping Ground Cipeteuy. Nah, ketika saya lewat ternyata ada artefak-artefak
seperti bebatuan gitu dan ini ada sejarahnya loh. Namun sayang sekali,
karena hari semakin sore, kita tidak sempat melihat yang lebih luasnya lagi.
Kemanapun kalian pergi, jangan
pernah meninggalkan sampah ya guys...
Senin, 23 Januari 2017
Langganan:
Postingan (Atom)
Minara 3 Tahun
Jauh-jauh hari Ibu berencana membuat kue sehat ala Ibu, hanya butuh 2 bahan. Ubi dna Cokelat. Selain membuat kue ulang tahun, kami belanja o...
-
"Toh wanita sekolah tinggi-tinggi nanti ujung-ujungnya di dapur juga." Sering banget denger kata-kata di atas. Versi saya, pendidi...
-
Meng-ASI-hi Minara Kembali, kekuatan afirmasi positif. Semua doa-doa baik saya sebutkan sejak Minara belum ada di perut saya. Mungkin kalau ...
-
Kali ini Dede Ara, Ibu dan Bapak akan ajak Uwa Dya ke Aquarium raksasa yaitu Sea World Ancol. Itung-itung dalam rangka ulangtaon Uwa di akhi...










