Kamis, 24 September 2015

Baru Akan Satu Langkah (2)

Ketakutan-ketakutan di postingan blog sebelumnya yang saya dan keluarga saya khawatirkan semakin parah dengan melihat jadwal kuliah yang sangat amat padat dari hari Senin-Sabtu jam 18.30-22.00 WIB. “Hah pulang jam 10 malem? Sendirian? Nyampe rumah jam berapa?” dalam hati kukulunut. Ini masih baru akan satu langkah, baru semester awal, masih seumur jagung, masih jongkok, belum bisa jalan atau apalah itu... Ini semua memang saya sudah tahu sejak awal sebelum saya memutuskan daftar kuliah. Yaps, berarti ini adalah konsekuensi saya atas keputusan tersebut. Bukan hanya itu, banyaknya semangat dimulai dari keluarga, Mister, Mamahnya Mister dan teman-teman yang lain juga yang membuat saya tidak merasa jenuh dan capek.

Keluarga Umi, Bapa, Aa dan Cipa yang selalu bikin kangen rumah karena kebawelan mereka karena Tetehnya yang selalu berangkat pagi pulang larut malam tapi susah makan, Aa yang udah susah saya bantuin ngerjain PR-nya, si Cipa yang pagi bangun tapi Tetehnya berangkat dan malem Tetehnya pulang Cipanya udah bobo *sedih*. Mamah Mister yang sudah men-support dan membantu dengan segala hal yang membuat saya pengen nangis bahagia, sehat selalu ya Mah. Dan Si Mister yang gak tau deh saya harus ngomong apa... yang selalu setia pula nemenin saya dari awal sampai saat ini dan mudah-mudahan sampai nanti dengan kasih sayang, penuh kebahagiaan  dan perhatian *asyiikk*. Daaaann... si Mister pula yang menghilangkan rasa takut kita semua dan ikut merasakan apa yang saya rasakan dimulai pulang larut malam, begadang, panas-panasan, ujan-ujanan, macet-macetan sampe laper bareng. Tapi selalu setia dengan segala kelelahan saya yang terpaksa dirasakan berdua juga. Paling seneng banget kalo dijemput sama si Aang dan dia bawa si Kinang (motor andalan, motor kesayangan a.k.a pacar kedua dia ceunah). Naik motor itu sama kamu serasa pengen nge-trip jjaaauuuuuhhh.... Ah so sweet banget sih kamu Ang!
By the way.. keinginan yang selalu ingin travelling berdua harus sedikit ditahan karena waktu yang udah gak kaya dulu bisa berpetualang berdua kemana aja dan kapan aja, apalagi ditambah si Mister yang udah sibuk dengan semester akhirnya, sukses Ang. Tapi ketika kita butuh piknik singkat kadang kita curi-curi waktu disela kesibukan masing-masing kita *oiya Aang sebutan untuk si Mister yaaa*. Walaupun begitu tapi dibalik semua ini kita berdua mempunyai cita-cita besar. Karena sekarang bukan saatnya untuk main-main melainkan untuk masa depan dan merangkai petualang besar yang sudah ada yang untuk diwujudkan kelak. Si Aang bilang “Nanti kita backpacker-an terus yaaa Nong kalo udah nikah.” Amin.
                                                                                                                                                               
Yang saya ceritakan ini masih sedikit dari apa yang sudah mereka lakukan untuk saya. Awal yang baik, ditemani dengan orang-orang baik menuju niat yang baik, InsyaAlloh akan menghasilkan banyak kebaikan juga. Alhamduillah masih banyak orang yang selalu dan akan terus saya sayang. Ya Allah sehatkanlah mereka yang selalu ada untuk saya. Amin.

Selasa, 18 Agustus 2015

Tradisi Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia


Merdeka... merdeka... merdekaaaa...
Seperti biasa, dalam rangka memperingati 17 Agustus-an maka semuanya serba merah putih dan seluruh rakyat Indonesia pun ada yang merayakan upacara pengibaran Bendera Merah Putih, ada juga yang mengadakan perlombaan. Termasuk di kampung saya mengadakan acara perlombaan. Di sini saya diberi tugas sebagai sesi dokumentasi, oke fix saya terima karena hobi saya yang seneng jepret sana sini.

Berikut hasil jepretan saya. Dimulai dari lomba balap karung, ada untuk anak-anak perempuan dan laki-laki. Di lomba ini yang untuk anak laki-laki ternyata adik saya mendapatkan juara 1. Untuk perempuan, entah saya lupa.







Dilanjut dengan perlombaan bawa kelereng dengan sendok. Game ini agak lumayan susah karena panasnya terik matahari mengharuskan kita tetap fokus agar membawa kelereng itu ke finish dengan selamat. Banyak kelereng yang jatuh maka banyak pula yang kalah. Tapi pas sesi anak perempuan, ketika temannya yang lain pada kalah tapi dia anteng sendiri sampai finish. Hebat!




Permainan yang satu ini sih agak sedikit repot dan menyebalkan. Lomba mengambil koin di dalam terigu. Seru memang tapi muka anak-anak menjadi cemong dan bekas terigunya itu bertebaran karena banyak yang jail. Alhamdulillah saya sudah pakai masker.



Bukan hanya anak-anak dan remaja, ibu-ibu pun tidak mau kalah dengan mengikuti perlomabaan sepak bola. Di sini seru! Melihat kurang ketidakpahamannya ibu-ibu soal permainan ini. Karena banyak ibu-ibu yang gemes dan memegang bolanya dengan tangan.



Hari semakin panas, namun tidak mengurangi rasa semangat para panitia, para peserta dan juga para warga. Yaps, warga yang menonton pun sangat banyak yang antusias. Panitia pun mengistirahatkan karena waktu sudah masuk solat zuhur.



Karena acara perlombaannya persis di depan rumah, saya pun pulang dan istirahat. Waduh.. saya ketiduran. Dan ternyata acara sudah dimulai. Maka saya segera solat dan siap-siap, jepret sana sini lagi.

Setelah istirahat tadi, dilanjutkan dengan perlombaan sepak bola bapak-bapak. Ah sudah biasa bapak-bapak main bola, eits... kali ini beda, karena bapak-bapaknya diwajibkan menggunakan daster dan kerudung. Duh. Ada-ada saja yaaa. Walaupun sudah pakai daster dan kerudung tapi tetap saja tendangannya kencang, makanya anak-anak jangan mendekat.

Keseruan lainnya dilanjutkan dengan lomba panjat pinang. Lomba ini merupakan lomba yang ditunggu-ditunggu. Lomba ini juga yang menjadi ciri khas ketika merayakan HUT RI. Di sini ada dua pinang, untuk dewasa dan anak-anak. Games ini berlangsung 2 jam lebih. Karena susahnya mencapai puncak. Namun tak sesusah ketika dulu kala para pahlawan memerdekakan Negeri Tercinta kita ini, Indonesia. Dengan susah payah dan kerjasama para peserta, akhirnya panjang pinang dewasa bisa mencapai puncak dan mengambil hadiah yang sudah digantung tadi. Disusul dengan panjang pinang anak-anak yang dibantu orang dewasa juga untuk mencapai puncak.



Mohon maaf untuk foto-foto ketika bapak-bapak main sepak bola dan panjat pinang tak sengaja keformat sebelum saya sebar di blog. *nangis*

Semua perlombaan sudah dilaksanakan dan itulah sedikit permainan-permainan yang sudah menjadi tradisi seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya hadiah yang kita cari, namun kebersamaan dan kekompakan para warga untuk merayakan dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

HUT RI ke-70 Tahun
Rancamaya, 17 Agustus 2015

Photo by : HerlianaYuningsih

Sabtu, 15 Agustus 2015

Baru Akan Satu Langkah (1)

Niat untuk melanjutkan pendidikan sudah muncul ketika saya akan lulus SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dengan jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) karena saya merasa perlu mengembangkan lagi diri saya agar lebih pintar *walau cuma termasuk rangking ke-3 sejurusan SMK, muji diri sendiri.* Ingin kuliah tapi gak mikir mau ambil jurusan apa nanti. Tapi apa daya, saya tidak seberuntung seperti anak-anak lain yang ketika sudah lulus SMK/ SMA orang tuanya langsung mendaftarkan kuliah dengan mengikuti kemauan anaknya mau kuliah dengan jurusan dan Universitas mana yang bahkan bisa di luar kota seperti anak itu mau, selain membiayai dari mulai pendaftaran hingga selesai, sampai orang tuanya pun ikut mengantarkan sana-sini. Mulia sekali orang tua tersebut, makanya suka sebel kalau ada anak yang bisa dibilang beruntung tapi suka nyinyir ngomongin orang tuanya. Nah beda dengan saya, saya yang hidup serba pas-pasan, tidak semudah itu untuk melanjutkan kuliah. Sebelumnya pernah saya share kan ya soal bagaimana kisah saya untuk melanjutkan kuliah dengan susah payah. Tapi alhamdulillah saya bangga punya orang tua saya yang gak pernah bikin saya nyinyir.

Sekarang saya sudah daftar kuliah, alhamdulillah dengan biaya sendiri. Tinggal nunggu waktu untuk mulai masuk kuliah. By the way, saya ambil jurusan Financial Management a.k.a Manajemen Keuangan. Dulu saya SMK ambil jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) yang sebenarnya sangat pas untuk zaman sekarang dengan teknologi yang meningkat pesat. Namun saya ngga tahu, ngga paham, ngga mudeng dengan pelajaran jurusan pas SMK, dan tidak ingin melanjutkannya lagi.

Dengan waktu yang sangat singkat yaitu cuma beberapa hari sebelum daftar kuliah saya berpikir jurusan apa yang akan saya ambil dan harus kuliah dimana? Sempat mencoba daftar ke Universitas Djuanda namun ada pro dan kontranya, walaupun tempatnya dekat ke rumah biar pulangnya gak larut malam karena berada di daerah Ciawi. Tapi saya tidak memutuskan ikut tes di Universitas itu. Sempat Mamahnya Mister menyarankan untuk masuk ke Ibnu Khaldun tapi sayang jarak yang amat sangat jauh. Setelah pusing-pusing memilih kuliah dimana dan jurusan apa, saya coba daftar dan tes di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kesatuan, dan Kesatuan merupakan tempat magang pas jaman SMK si Mister dulu. Setelah ikut tes psikotes akhirnya saya diterima dijurusan awal yang saya pilih tanpa harus pusing dipindah-pindah oleh pihak Universitas. Namun saya tetap bingung, kenapa saya memilih Manajemen Keuangan? Alasannya saya berharap ilmu itu tidak hanya bisa dipakai di dunia kerja dan wirausaha saja nanti, tapi kelak bisa bermanfaat bagi keluarga saya kelak. Dan tidak melihat universitas itu swasta ataupun negeri, karena menurut saya itu balik lagi ke si mahasiswanya, bagaimana dia bisa mengembangkan dirinya.

Saya kerja dan kuliah juga. Bagaimana mengatur waktunya? Alhamdulillah saya mendapat tempat kerja yang jam kerjanya tidak mengekang dan bahkan mendukung karyawan seperti saya yang akan melanjutkan kuliah. Saya pun mengambil kelas karyawan atau kelas malam untuk kuliah. Berarti pagi sampai sore saya bekerja dan sore sampai malam saya kuliah. Capek ga sih? Walau orang tua, si Mister, si Mamah, dan banyak orang sudah mengingatkan "Mulai jaga kesehatan dan banyak minum vitamin, Na." Sempat kepikiran juga sih bagaimana nanti saya pulang kuliah dengan hari yang sudah larut malam dengan badan yang sudah kelelahan? Jarak antara rumah dan kampus yang lumayan jauh. Orang tua yang sudah bawel ini itu, apalagi dengan ramenya kasus begal?

Bersambung...

Sabtu, 25 Juli 2015

#VisitGarut - Gunung Papandayan



Tanpa basa basi busuk cerita ini itu! Yeah! Akhirnya saya daki gunung lagi. Keinginan daki gunung yang lebih tinggi setelah waktu itu naik Gunung Munara, bisa terwujud. Atas ajakan si Mister untuk daki bareng keluarganya.

Gunung yang didaki kali ini Gunung Papandayan. Gunung Papandayan adalah gunung api strato yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung . Gunung Papandayan ini terkenal dengan kawah-kawahnya, maka siap-siap kalian harus bawa masker karena bau belerangnya yang sangat menyengat.

Yuk kita lihat hasil jepretan moment di sana.







Di sini yang bau belerangnya sangat menyengat. Sepanjang jalan ini saya dan si Mister banyak diskusi tentang baunya, karena saya serasa nyium kentutnya si Mister, karena hobi dia kalau kita lagi ketemu yaitu kentut yang tanpa permisi namun melekat di hati. *eeeaaaaa*





Nah... di sini juga ada yang namanya hutan mati, tempatnya sangat luas dengan pohon-pohon mati dengan batu dan pasir putihnya yang kalau dilihat dari kejauhan kita seperti berada di Jepang.









Di Gunung Papandayan juga ada sunrise yang indah dan hangat yang gak boleh ketinggalan sama pendaki yang datang ke sini. Di luar prediksi yang saya pikir saya bakal ngerisiin dan ngerengek karena kelelahan dan beratnya bawa daypack, ternyata tidak! Malah si Mister yang bawel nanya "Nong capek gak? Nong berat gak bawa tasnya? Nong istirahat dulu." Aaaahhh kamu Mister....





Trip kali ini banyak sekali sponsornya. Dimulai dari orang tua saya dan adik-adik mungil saya yang harap-harap cemas nunggu di rumah. Orang tua si Mister yang baik banget sudah merelakan waktu dan tenaganya. Teteh dya yang sedia membawa kamera dan memotret disela beratnya bawa daypack. Rekan kantor saya juga yang mau minjemin sleeping bag ke temannya walaupun gak muat dibadan saya karena kependekan. Dan si Mister yang selalu jagain saya disela-sela jagain Teteh dan sepupu-sepupunya. Terima kasih Ya Alloh, semoga banyak rezeki untuk kita melakukan trip selanjutnya.

Dan kalian tunggu cerita trip berikutnya yak! Hihi.

Happy Mountaineering!

Photo by: - Fidyastria Saspida - Muhamad Rizki Farhan

Senin, 29 Juni 2015

Masakan Indonesia : Ceker/ sayap Ayam Bumbu Merah

Kali ini saya ingin berbagi resep masakan favorit keluarga saya yang berbahan dasar ceker dan sayap ayam. Mungkin sebagian dari kalian ada yang tidak menyukai ceker dikarenakan bentuk ataupun bau amisnya, tapi kalian bisa mengganti ceker dengan sayap ayam. Nah, masakan Ceker Bumbu Merah saya ini tidak berbau amis karena dimasak dengan cara dan bumbu yang tepat. Mau tahu bahan-Bahan dan cara-caranya? Akan saya ceritakan di sini..

Bahan-bahan:
1. Ceker/ sayap ayam ½ kg
2. Jeruk peras 1 buah
3. Cabe merah 3 buah
4. Cabe rawit secukupnya (sesuai tingkat kepedasan masing-masing)
5. Bawah merah 5 siung
6. Bawang putih 3 siung
7. Jahe 1 buah (uk. Jari jempol orang dewasa)
8. Kunyit 1 buah (uk. Setengah jari jempol orang dewasa)
9. Daun salam 2 lembar
10. Garam, gula dan bumbu penyedap secukupnya
11. Minyak 3 sendok makan


Cara-caranya :
1. Rendam ceker/ sayap ayam dengan garam dan air jeruk perasan. Tunggu 15 menit. Ini berfungsi untuk menghilangkan bau amis dari ceker/sayap ayam tadi.
2. Bersihkan ceker/sayap ayam yang sudah direndam dengan air bersih. Lalu pindahkan kewajan dan masak dengan air secukupnya hingga dagingnya lunak.
3. Cuci bersih bumbu. Lalu ulek (lebih enak menggunakan ulekan dibanding dengan blender) bumbu hingga halus, kecuali daun salam.

4. Panaskan minyak untuk menumis bumbu dan tunggu hingga berubah warna dan tercium wangi, jangan lupa masukan daun salam.

5. Setelah itu masukan air secukupnya ke bumbu yang sedang ditumis.
6. Lalu ceker/ sayap yang sudah lunakpun dimasukan kedalam bumbu yang sedang dimasak.
7. Beri garam, gula dan bumbu penyedap secukupnya. Tunggu hingga meresap.
8. Tanpa menunggu lama Ceker Merah Meriah siap dihidangkan.


Bagaimana? Tertarik? Caranya pun begitu mudahkan. Warnanya menarik sekali ya karena tadi dibumbunya menggunakan 3 buah cabe merah besar agar mendapatkan warna merah yang alami, maka dari itu saya sebut Ceker/Sayap Ayam Bumbu Merah karena warnanya yg merah. Dijamin enak apalagi ditemani dengan nasi hangat dan dimakan bersama keluarga/ teman/ kekasih. *hihihihi*

Selamat mencoba...

Minggu, 14 Juni 2015

#VisitBogor - Liburan Singkat Puncak - Cipanas



Kesibukan kerja, ditambah persiapan mental dan kondisi psikis (wih hiperbola bangetlah) karena akan mengahadapi bangku kuliah yang mengharuskan saya memilih ikut liburan singkat yang super duper singkat, padat dan dadakan yang kantor adakan ini. Liburan dulu biar dibilang bahagia. Tempat yang dipilihpun ke Puncak dan Cipanas.

Kita berangkatpun setelah pulang kantor dan mandipun di kantor, haha pengalaman pertama nih. Setelah semua siap kami berangkat menuju tempat pertama *di luar cerita betapa macetnya jalanan Bogor-Puncak* yaitu Cimory river side dikarenakan sepulang kantor kita semua cuma cemal-cemil akhirnya makan dulu, di sini dalam rangka ulangtaun Mba Nyunyun dan Mas Chandra. Ceritanya kita ditraktir, makanan yang saya pilih sop iga + nasi untuk menghangatkan tubuh dan mengenyangkan perut. Tak hanya makan dan minum saja, akan tetapi kita banyak mengambil foto namun entah kenapa kita semua lupa gak beli yogurt yang menjadi ciri khas tempat tersebut, mungkin karena keasyikan ngobrol atau karena kekenyangan atau ngantuk karena hari sudah larut malam, entahlah... lupakan... 



Setelah puas, kita langsung mencari penginapan karena ternyata memang sudah larut malam. Kita dapat tempat di daerah Cipanas yang cukup nyaman dan yang pasti tidak seram! Akhirnya kami semua istirahat...

Yah namanya juga liburan singkat, padat dan dadakan, pagi datang kamipun siap-siap sarapan dengan memasak mi *maafin aku yaa ruuutt* lalu bergegas mandi dan rapih-rapih namun tak lupa took a photo.



Lalu, langsung melanjutkan perjalanan untuk pulang dan sempat mengunjungi Mesjid Ata Awun.



Dan tak lama kami berangkat dan terjebak satu jalur *di luar keindahan alam yang selalu saya rindukan ini yang bikin saya malas pergi ke Puncak* tak terasa 1 jam lebih kita terjebak dan akhirnya bisa jalan juga ini mobil. Kita sempat berhenti untuk membeli oleh-oleh, tak banyak yang saya beli dikarenakan masih ada biaya kuliah lagi *nyebutinnya sampe boseeennn* dan diakhiri dengan Ibu Negara mentraktir makan siang ba'so seuseupan yang cukup terkenal di Bogor tercinta ini.

Terima kasih untuk liburan singkat yang sangat cukup singkat ini.

Pesan saya : Jangan lupa bahagia.

Selasa, 02 Juni 2015

Orang Macam Apa Ini?

Minara 3 Tahun

Jauh-jauh hari Ibu berencana membuat kue sehat ala Ibu, hanya butuh 2 bahan. Ubi dna Cokelat. Selain membuat kue ulang tahun, kami belanja o...